Jumat, 29 April 2016

[Cerpen] Dia yang Memperhatikanmu (4)

[Cerpen] Dia yang Memperhatikanmu (4)
"Ini kamar lu?" tanyaku ketika kami tiba di depan sebuah pintu kayu berlapis cat warna coklat. Mataku disibukan melihat setiap sisi pintu itu. Banyak sekali sticker yang menempel. Kebanyakan dari sticker itu adalah kenangan pos basecamp pendakian, event-event kampus dan beberapa gambar produk peralatan outdoor. Sepertinya dia lupa menaruh kunci kamar setelah aku meliriknya dan melihat tingkahnya yang kebingungan. Akhirnya dia menemukannya setelah mencarinya di saku kanan celana  jeansnya. Pintu pun dibukanya, "masuk breee....".

Rapi. Itulah kesan pertamaku setelah melihat ruangan yang ada di balik pintu warna coklat bersticker itu. Walaupun cukup banyak barang yang ada di dalam kamar tapi dia cukup pintar menata barang-barangnya.  Peralatan mendaki, buku-buku dan banyak sekali peralatan fotografi yang tidak tahu itu namanya apa. Tapi setidaknya pernah melihat benda-benda itu di situs online-shop waktu mencari kamera pocket untuk perjalanan backpaker-ku. Diapun menyalakan lampu kamar yang memang sudah mulai gelap menuju malam.

"Gerah gak luu?" dia bertanya sambil menyalakan kipas angin yang ada di bawah saklar lampu kamar tadi.
"Lumayan, wuih barang baru nih?" aku memegang sebuah sleeping bag yang ditaruhnya di atas lemari bajunya.
Dia melihatku yang sedang memutar-mutar sleeping bag nya "Udah setahun itu maah, yang dulu buat naik ada di rumah gak anget soalnya. Tau sendiri kan pas kita ke Merbabu dulu itu gimana? Dingin banget breee".
"Halaah.. alesan lu! lo gak bisa tidur karena mikirin wanita yang kamu cintai diem-diem itu kan?" Aku ingat betul wajahnya yang mendadak berubah pucat setelah mendengar cerita malam itu. Pandangannya kosong. Seolah-olah dunianya runtuh begitu saja secara tiba-tiba. Mendengar jawaban yang selama ini dia pikirkan tapi tidak berharap menjadi kenyataan.
Alisnya terangkat. "Hahaha.. bisa aja lu maah. Yaudah buruan sono mandi" jari telunjuk kanannya mengarah ke sebuah pintu dan jari telunjuk kirinya menekan sebuah tombol power televisi.
Aku pun menuju kamar mandi yang ada diluar kamar kosnya. Sedangkan dia sibuk dengan kameranya yang digunakan untuk hunting foto di stasiun tadi.


*****

Badan terasa lebih segar. Kecapekan duduk lama di kereta pun sedikit menghilang. Aku berdiri di depan pintu kamar kos sambil mengeringkan rambutku yang sudah memanjang. Masih penasaran dengan sticker-sticker yang ada di pintu tadi.
"Ngapain lu berdiri di situ? Ngalangin pemandangan. Hahaha..."
"Pemandangan apaan coba? Gak ada cewek juga. Haha. Banyak juga kegiatan lu"
Dia memasang wajah bingungnya. "Kegiatan apaan?"
Jari telunjuk kananku menujuk sticker-sticker yang ada di pintu coklat itu. "Niiih...."
"Oooh.. mayan laah. Eh nanti mau kemana nih? Restoran? Cafe? Kaki lima apa mau kemana?" dia antusias sekali ingin mengajakku keluar melihat kota pelajar yang istimewa itu.
"Restoran?? Ngapain coba. Males banget. Jangan cafe juga aah. Masak ke Jogja maennya ke cafe juga. Anterin gue keliling Jogja aja. Terus ke angkringan stasiun Tugu. Kan asik tuh..."
"Oke deeh.. kalo gitu gue sekalian bawa kamera"
"Serah lu deeh.. haha, yaudah giliran lu yang mandi sono"
Dia mengarahkan telapak tangan kirinya ke arahku. "Bentar...dikit lagi". Sedangkan tangan kanannya sedang memegang mouse memindah file foto dari kamera ke laptop. "Oh iya.. gue punya buku bagus nih.
"Buku apa?" tanyaku.
"Buku backpaker. Penulisnya Agustinus Wibowo" dia menunjuk sebuah buku yang ada di atas kasurnya. Mungkin sebelum tidur dia sering membacanya.
"Wuihh.. kece. Eh.. bukannya itu buku lama ya?"
"Iya keknya tapi baru sempet beli ini. Kalo enggak, baca buku atau novel tuh disana" dia menunjuk ke salah satu sudut kamar. Aku mengalihkan pandangan melihat ke sebuah sudut kamar yang ditunjuknya. Rupanya banyak sekali buku yang dia miliki tapi rasanya tidak ada yang berhubungan sama sekali dengan kuliah yang dia ambil. Aku juga melihat banyak sekali kertas-kertas coretan di samping tumpukan buku. Mungkin coretan-coretan kuliah pikirku. Dia pun beranjak dari duduknya, mengambil keperluan untuk mandi dan pergi menuju ke arah kamar mandi tanpa sepatah katapun.

*****

"Oh..iya sampai lupa nawarin minum. Mau minum ape?" 
Aku memalingkan pandanganku dari layar kaca dan melihat ke arah wajahnya. "Ahh.. gak usah. Gak perlu di tawari gue udah ngambil sendiri nih. Haha..." sambil menunjukan gelas ke arahnya.
Dia menoleh ke arahku. "Air putih aja nih? ".
"Iyeee...". Aku sengaja cuma minum air putih karena nanti juga bakalan minum kopi. Aku tau kalo ada beberapa kopi sachet dan susu sachet yang digantung di dekat jendela. Macam warung kopi saja aku pikir. "Yaudah yuk berangkat". Dengan pakaian kemeja kotak flanel hitam, jeans biru yang sedikit pudar dan sepatu sneaker aku pikir sudah cukup nglindungin dari angin malam. Ditambah sedikit aksesoris yaitu jam tangan dan beberapa gelang hasil kreasi sendiri. Sudah menjadi kebiasan bagiku menggunakan jam dan gelang. 
"Gak pake jaket lu?" tanya dia sambil mengambil jaket jeans biru yang ada hoodienya.
"Ah.. gak usah. Kan elu yang depan" sahutku.
"Ebuseeeet... haha. Oke deeh... "

Suasana kota pelajar malam itu begitu bersahabat. Tujuan pertama kami adalah angkringan stasiun Tugu. Cukup banyak tukang parkir waktu itu yang mengarahkan kendaraan kami seakan tau kalau tujuan kami adalah mampir di angkringan. "Lumayanlaah gak begitu rame" batinku. Banyak sekali anak muda yang menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Kebetulan malam ini adalah Sabtu malam. Setelah selesai berurusan dengan motor, parkir dan tukang parkirnya kamipun langsung menuju ke salah satu angkringan.
"Monggo... monggo" salah seorang pedagang angkringan menyambut kami dengan ramah.
"Pak. Es susu tape setunggal nggih. (dibaca : es susu tape satu ya) lu pesen ape?" temenku bertanya padaku.
"Ah.. aku kopi jos aja pak"
Kami disodori sebuah kertas menu. Karena tidak begitu rame jadinya tadi bilang duluan. Kamipun duduk di dekat segerombolan anak muda-mudi. Mahasiswa semester awal pikirku.
"Niih.. gue udah. Sekarang lu yang pesen" sambil menyodorkan kertas menu.
"Banyak banget lu pesennya" dia kaget saat melihat apa yang aku tulis. Yaah.. namanya belum makan seharian. Ditambah kangen banget sama suasana angkringan seperti ini. Dia pun segera menulis beberapa pesenan dan menyodorkan ke penjual. Tidak lama pesanan pun datang. 
"Gimana? enak kagak?"
"hemmm.. heemm..." Aku hanya bisa mengangguk dan memberi isyarat karena mulut penuh dengan makanan. 
"Udah.. santai aja. Baru jam segini jugak. Makanan masih banyak"
Aku tidak memperhatikannya. Aku sedang sibuk dengan semua makanan yang ada di depanku. "Gak ambil foto lu" tanyaku setelah selesai menikmati semua makanan.
"Ah.. enggak. Entar aja. Aku dah beberapa kali ambil foto di spot sini" 
"Yaudah fotoin gue aja. Haha..."
"Wuuuth?? wani piro? haha..."
Diapun mengambil sebuah kamera profesional yang dia bawa dan mengambil beberapa gambar diriku yang sedang asik menikmati kopi jos. Kopi yang bercampur dengan arang panas ditaruh langsung di minuman kopinya.
Dia memasukan kameranya kembali. "Habis ini mau kemana?"
"Terseraaah.. elu dah. Elu kan yang dah lama disini"
"Haaah... kek cewek lu. Pake terserah segala"
Karena dia bicara begitu aku pun mulai membahas soal wanita. "Eh... lu dah punya pacar belum?"
Dia menoleh ke arahku sambil menikmati minuman pesanannya. Kedua alisnya terangkat. "heeem..??"
Aku pun bertanya kembali tapi jawaban yang aku dapat bukan iya ataupun tidak. Dia hanya membalasku dengan ketawa. 
"Yaudah yuk lanjut ke tempat berikutnya. Dah selesai kan lu? Gak mau pesen lagi?"
Aku pun meng-iyakannya.
Selama perjalanan kami hanya membahas tentang persoalan kuliah dan masa SMA, tidak sekalipun membahas tentang wanita. Atau bahkan dirimu. Dirimu yang dia cintai dari awal bertemu.


*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar