Jumat, 15 April 2016

[Cerpen] Dia yang Memperhatikanmu (part 2)

[Cerpen] Dia yang Memperhatikanmu (part 2)

Aku duduk terdiam melamun sambil melihat hiruk pikuk aktifitas pagi ini. Beristirahat setelah melakukan rutinitas lari di Minggu pagi. Banyak sekali orang yang melakukan aktifitas di pagi yang cerah ini. Ada yang sibuk ber-selfie dengan sahabat-sahabatnya ada juga yang sendiri. Banyak sekali remaja yang lalu lalang berlarian mengelilingi area jalan di sebuah gedung rektorat Universitas yang sangat terkenal di wilayah itu. Para orang tua dan anak-anak pun tak kalah banyak. Ada yang mengisi aktifitas olahraganya dengan sekedar jalan kaki atau bersepeda. Atau bahkan bermain sepak bola dan bulu tangkis di tanah lapang depan gedung utama. Ada juga yang sibuk menjajakan minuman dengan  berkeliling. Menawarkan ke setiap orang yang ada di area jogging itu.Aku mengambil handphone di saku kanan celananku. Melihat jam digital yang ditunjukan di layar depan. Aku tak terbiasa jogging membawa handphone. Tapi kali ini tidak, handphone terpaksa aku bawa karena jam tangan yang biasa terikat di pergelangan tangan kiriku rusak setelah jatuh dari lantai dua gedung perkuliahan. Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Nampak foto aku bertiga dengan teman-temanku waktu pendakian di Merbabu dulu. Sudah dua tahun lebih ternyata. Sekarang mereka pasti disibukkan dengan tugas akhirnya. Aku pun begitu.

Aku jadi teringat dengan percakapan kami malam itu. Percakapan yang mengungkapkan rahasia terdalam dari sebuah perasaan. Kira-kira bagaimana ya kabarnya Dia. Bagaimana dengan perasaannnya kepada Wanita itu. Aku pun melamun. Bagaimana jika itu terjadi padaku? Apakah aku kuat menahan perasaan itu? Ah tidak. Aku tidak seperti Dia yang pandai menyimpan perasaan. Kalau itu terjadi padaku sudah pasti aku katakan dari awal. Tidak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku pun teringat sesuatu. Oh iya, wanita yang dicintai oleh Dia kan populer waktu di SMA. Setidaknya aku tahu dari kelas satu sampai kelas tiga selalu ada yang mengejar-ngejar cinta wanita itu. Entah itu teman satu kelas, teman satu angkatan. Atau bahkan kakak tingkat.

Aku pun teringat kembali waktu kelas satu wanita itu memiliki hubungan cinta dengan kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas dua IPA. Aku tidak tahu secara pasti tapi itu memang sudah menyebar luas di SMA terlebih lagi di kelas. Waktu kelas dua dan tiga pun begitu. Wanita itu punya hubungan cinta dengan teman satu kelasnya. Aku pun mengernyitkan dahi berpikir lebih dalam. “Apa? Teman satu kelasnya? Bukankah dia dan wanita itu satu kelas selama tiga tahun?” Aku berkata dengan diriku sendiri di dalam hati. Bagaimana dia bisa bertingkah biasa saja di depan wanita dan laki-laki yang dicintai oleh Wanita itu. Aku tak habis pikir dengan apa yang dia lakukan dalam kesehariannya. Enam hari dalam seminggu selama tiga tahun memasang wajah tidak terjadi apa-apa.

Bagaimana jika itu terjadi padaku? Bukankah cinta datang tanpa diundang? Aku hanya terdiam dan mendoakan dia supaya diberikan kekuatan dan kesabaran. PING! Terdengar dentingan suara handphone memecah lamunanku. Aku tersadar bahwa aku harus bergegas packing barang untuk kembali ke daerah asal sebelum menghadapi tugas akhir. Aku pun menghubungi dia, temanku itu. Berniat singgah di tempatnya, menikmati suasana kota pelajar. Sebelum pulang menuju ke rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar