Rabu, 21 September 2016

Insterested in: Ngebunuh Cicak!

Saya sedikit bingung memulai tulisan ini dengan kalimat yang seperti apa. Bukan karena kurang kata dalam memulainyaseperti yang sudah-sudah—justru sebaliknya. Sudah lewat beberapa menit berganti hari saat saya menulis kalimat-kalimat yang nantinya saya tebak akan dipenuhi oleh bumbu-bumbu curhatan ala anak fakir asmara—yang memang benar adanya.

Akhirnya sekarang saya menemukan jawaban ketika ada pertanyaan: "Add who you're interested in" seperti yang ada di laman media sosial yang sudah-sudah. Bunuh cicak ? Yaah! Memang benar adanya. 

Saya sebenarnya tidak suka membahas hal bunuh membunuh. La wong gara-gara lihat sapi disembelih aja jadi gak doyan daging, walaupun kalo disuguhi bakso juga mau. Apalagi membunuh rasa cintaku padamu dek! Abang gak mampu—he'em deh.

Hewan yang punya body yang ginuk-ginuk itu membuat saya geli sebenarnya, tapi ibarat judul novel "Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas"-nya Eka Kurniawan—maka dendam saya (walaupun cuma kesel doang sih) kepada cicak dan rindu dapat pahala harus di bayar dengan cash!

Loh kok pahala? Lha emang ada hadist shahih tersendiri yang meriwayatkannya kalo membunuh cicak itu dianjurkan. Dibunuh lo ya, bukan disiksa. Walaupun tidak dibunuh juga tak apa, la wong anjuran dan ada penjelasan-penjelasan terperincinya kok. Silahkan klik disini kalau mau tau lebih jelasnya.

Namun, alangkah baiknya kalau masalah seperti ini ditanyakan langsung kepada guru ngaji anda. Kalau anda non ya tidak ada salahnya bertanya dengan para guru agama Islam, Ustadz, Kyai, Ulama, Syekh atau apapun sebutannya untuk mereka yang bertugas mengayomi, membina, dan membimbing umat Islam baik dalam masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari segi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Tapi singkirkan dulu soal anjuran, ini lebih ke masalah personal. Sudah sering kali saya mengusir cicak tapi selang berapa menit balik lagi. Bukannya apa-apa, tapi buang kotorannya itu lho yang di tempat-tempat strategis. Entah itu di pakaian "suci", peratalan makanan yang jelas-jelas bahaya kalo terkena kotoran cicak yang mengandung bakteri  Escherichia Coli. 

Atau pengalaman lainnya yang gak kalah ngeselin yaitu kena tembakannya beberapa kali padahal itu binatang berhidung pesek berada di tembok belakang, sedangkan saya berada satu meteran dari tembok. Kok ya bisa-bisanya ngeluarin pake acara nyemprot. Alhasil harus ganti pakaian dan sprei.

Tak cukup sampai disitu, beberapa tahun silam ketika disaat saya membaca buku yang sangat mencerahkan. Tiba-tiba itu bom kotoran jatuh tepat di buku yang saya baca. Kalo ini emang bener-bener bikin saya naik pitam.

Oke, lupakan masa ketika saya masih punya pacar itu. Tengah malam ini saya sudah dedikasikan waktu  dan tenaga untuk berburu. Setelah melihat itu binatang merayap di lemari yang pintunya sedikit terbuka karena memang sudah rusak. Saya rasa, saya tak akan kena Pasal 302 KUHP. Lagian itu binatang tergolong mengganggu—definisi dari hama.

Rasa geli sedikit memudar karena kejengkelan, saya pun langsung tancap gas mengambil sapu. Untuk menjitak kepala itu cicak yang sepertinya tadi tersenyum nyinyir sambil berkata: "Ape loe? hehee...".

Tapi entah kenapa target seperti hantu. Berganti dan menghilang begitu saja. Hmm... mungkin kurang doa pikir jomblo aduhai ini—paan sih terima saja. 

Saya sadar setiap makhluk yang tercipa pasti ada manfaat dan efek buruknya. Sampai tulisan ini selesai ditulis, batang hidung yang mirip tokoh Voldemort itu belum juga kelihatan. Mungkin sedang menyiapkan amunisi untuk berperang nanti—entah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar