Minggu, 16 Oktober 2016

Analogi Hati dan Lidah

Analogi Hati dan Lidah (Photo by Tim Marshall via Unsplash)
Hati (perasaan-red) dan lidah tak ubahnya pinang dibelah dua. Kedua hal tersebut sama-sama bisa menilai suatu objek tertentu. Menilai dengan predikat baik dan buruk, benar dan salah, kemudian memilih dan memilah mana yang sesuai atau tidak sesuai menurut setiap individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah.

Banyak indikator seseorang dalam menilai suatu hal yang kemudian menimbulkan banyak penilaian yang berbeda dari setiap individu pemilik hati dan lidah. Entah itu negara, suku, ras, agama, budaya, pengalaman, ilmu, belajar dan lain sebagainya. Namun, dari semua indikator itu sejatinya terbagi menjadi dua latar belakang. Yaitu latar belakang asal dan latar belakang proses. Dua latar belakang inilah yang nantinya membangun sebuah penilaian.

Latar belakang asal adalah suatu keterangan yang menjelaskan keadaan awal. Dalam konteks ini adalah keadawaan awal individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah. Sedangkan latar belakang proses adalah keadaan dimana individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah sudah mengalami  kontak dengan indikator-indikator di luar latar belakang asalnya.

Kita ambil contoh dalam latar belakang asal yaitu sebuah indikator kelahiran. Individu yang lahir di suatu negara di Eropa dan di Indonesia akan memiliki perspektif sendiri dalam menilai suatu objek atau kejadian tertentu.

Orang Indonesia yang terlahir di sebuah wilayah yang kaya akan emas hijau yaitu rempah-rempah kebanyakan akan menyukai masakan dengan cita rasa yang kaya. Percampuran dari satu bumbu dengan bumbu lainnya. Atau cotoh lainnya adalah rasa pedas. Berbeda dengan individu yang terlahir di suatu negara di Eropa kebanyakan dari mereka tidak menyukai rasa pedas. Contoh lainnnya adalah penilaian tentang buah durian. Yang mana di Indonesia terkenal dengan sebutan rajanya buah. Kebanyakan orang Indonesia menyukai rasa dan tekstur dari buah durian sedangkan hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh kebanyakan orang yang terlahir dan besar di salah satu negara di Eropa.

Begitupun penilaian yang menggunakan hati (perasaan-red). Salah satu objeknya adalah yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat. Kita ambil contoh sebuah kejadian dimana seorang istri mencium tangan suami. Menurut penilaian orang Indonesia itu merupakan suatu yang wajar. Bentuk cinta dan kasih sayang dari seorang istri kepada suami, pun sebaliknya. Namun bisa berbeda menurut pandangan individu yang terlahir di salah satu negara Eropa. Hal tersebut akan dinilai sebuah hal buruk. Dimana menurut individu tersebut hal seperti itu dianggap sebagai ketidak setaraan gender. Tak jarang itu akan menimbulkan culture shock. Walaupun tidak semuanya seperti itu.

Kemudian dalam latar belakang proses adalah ketika individu tersebut sudah mengalami asimilasi. Sebuah pertemuan dan penyesuaian dengan cara berpikir, pola berpikir dan indikator-indikator yang berbeda-beda. Itulah yang disebut sebagai pengalaman dan proses belajar. Yang akan menimbulkan suatu penilaian yang baru.

Setiap individu manusia yang memiliki hati (perasaan-red) dan lidah memiliki penilaian tersendiri dalam menilai suatu objek atau kejadian tertentu. Kalau seperti itu maka individu atau kelompok satu tidak perlu memaksakan kebenaran menurut pandangannya kepada individu atau kelompok yang lain. Lalu kalau kebenaran dalam kehidupan itu berlandaskan persepsi dari setiap individu, maka kebenaran yang memang benar-benar benar itu yang seperti apa? Mungkin kita perlu bertanya dengan sesuatu hal yang menciptakan kehidupan itu sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar