Jumat, 07 Oktober 2016

[Cerpen] Iya, Aku Sayang Kamu.

[Cerpen] Iya, Aku Sayang Kamu.
"Iya aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu".

Suasana sunyi tanpa kata di antara mereka berdua kini berubah menjadi tanda tanya bagi Gita. Jemari tangannya yang lentik itu berhenti memainkan tangkai cangkir yang penuh dengan kopi latte, dan kini memandang ke arah laki-laki yang duduk di depannya. Memandang penuh tanda tanya.

Sebelum mulutnya mulai terbuka Masastra melanjutkan kata-kata jujur dari hatinya. Namun kini mereka saling menatap dalam satu frekuensi yang sama.

"Dan aku masih ingin bebas dan membebaskanmu. Aku tidak mau ada sesuatu hal yang mengikat untuk sekarang. Entah kenapa aku merasa ada yang menahan jika kita memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman untuk saat ini. Bukan apa-apa, aku hanya selalu percaya dengan perasaanku sendiri. Karena aku merasa tidak nyaman berhubungan seperti anak muda jaman sekarang. Ah entah, walaupun kita juga masih muda namun sudah tak remaja".

Masastra berhenti berbicara, merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan. "Sastraa...," Gita memanggil Masastra dengan membuka lebar mulutnya di akhir kata. Spontan Masastra membalasnya, "Gitaa...." tak kalah dengan apa yang dilakukan Gita saat mengatakan namanya.

Gita tertawa melihat kelakuan laki-laki yang ada di depannya. Tawanya begitu menghipnotis Masastra. Keceriaan yang ada pada Gita memang selalu membuat Masastra merasakan sesuatu hal yang bisa membuatnya nyaman. Gita dan Latte memang suatu hal yang sama pikir Masastra. Menyembuhkan.

"Dan ini bukan suatu ikatan yang mengikat, jika pada suatu saat nanti kamu tertarik dengan laki-laki lain. Itu tak jadi masalah buatku." Masastra melanjutkan. Gita tersenyum dan melihat mata Masastra dengan penuh perhatian.

Kamu ih, dasarr..., harusnya kan kamu tanya dulu perasaanku bagaimana, bukannya langsung tiba-tiba membuka pembicaraan dengan bilang iya aku sayang kamu. Batin Gita. "Memangnya bener gak masalah kalau aku sama laki-laki lain?"

"Hemm," Masastra hanya bergumam dan sedikit menganggukkan kepalanya. Masastra mengalihkan pandangannya melihat lalu lalang jalan. Melihat tetesan-tetesan air dibalik kaca cafe yang mereka temui di kala hujan.

Suasana kembali hening, tapi mereka berdua tidak merasa sunyi.

Gita tahu kenapa Masastra bersikap seperti itu. Tanpa cerita dari Masastra sendiri, Gita sudah tahu masa lalu laki-laki yang ada di hadapannya. Yang dengan lucunya bilang kalau dia mencintainya dan merelakannya dengan laki-laki lain. Tak hanya mengerti, Gita menerima masa lalu itu.

Masastra masih terdiam memperhatikan lalu lalang di balik kaca. Terkadang memperhatikan Gita yang menatapnya dan melemparkan senyumnya. Mencoba menggaruk kulit di bawah kelopak mata, sekedar mengalihkan salah tingkahnya. Masastra bahagia.

Iya, aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu juga Masastra. Gita tersenyum membayangkan kata-kata barusan yang urung dia katakan.

"Sastra...."

"Iya sayang, eh Gita" Canda Masastra.

"Besok ketemu orang tua ku yuk?"

Hujan kini reda, matahari mulai menyinari. Seperti kedua hati mereka yang saling mengerti dan memahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar