Senin, 31 Oktober 2016

Konsep Jodoh (?) dan Selamat Menempuh Hidup Baru


Setiap generasi pasti memiliki tahap dan fase yang akan terjadi dalam kehidupan generasi itu sendiri. Dimana "pasti" ini bukan berarti suatu hal yang mutlak. You know what? End of the world maybe—sesuatu hal yang mengakibatkan pasti menjadi tidak mutlak.

Akan tetapi tahap dan fase yang "pasti" tadi tidak selalu bisa datang di kehidupan manusia yang ada di dalam generasi itu. Mungkin karena kematian atau alasan lainnya.

Saya lahir di generasi awal 90an. Tak perlu juga saya ngasih tau tepatnya kapan kan? Sekarang sudah tahun 2016, hampir 2017. Dimana tahap dan fase yang akan datang atau yang sedang terjadi sekarang dalam hidup saya adalah munculnya banyak undangan dari beberapa teman tentang hari bahagianya.

Ada beberapa teman juga yang sudah melangsungkan pernikahan di usia sangat muda dan ada juga yang berencana menikah di atas kepala tiga. Tapi, saya sendiri setuju bahwa empat tahun dari sekarang adalah "tahun emas" untuk melangsungkan pernikahan.

Terus, apakah itu akan terjadi sama saya?

Saya pikir pernah saya tulis di salah satu prosa curhatan "Aku: Apakah Kita Ada?".

Saya terkadang masih terbayang kontradiksi tentang konsep jodoh yang tidak jauh dari dunia percintaan, pacaran dan pernikahan yang sering menggalaukan saya dulu. Bukan berarti sekarang saya sudah mendapatkan jawaban dan tidak menggalaukannya lagi, hanya saja memang saya tidak mencoba memikirkannya. Alasannya simple, hal itu bukan prioritas yang saya kejar sekarang dan beberapa hal yang mengakibatkan saya memilih jalan ini sekarang.

Ada golongan yang mengatakan jodoh itu gak usah dicari, nanti juga datang sendiri. Sedangkan golongan yang lain mengatakan kalau jodoh itu harus dicari. Ada golongan yang mengatakan jodoh itu gak kemana. Sedangkan golongan yang lain  mengatakan kita harus kemana-mana supaya mendapatkan jodoh. Ada golongan yang mengatakan jodoh itu sudah tertulis pasti. Sedangkan golongan lain mengatakan jodoh itu belum pasti, manusia itulah yang memastikan. Ada golongan yang mengatakan jodoh itu Tuhan yang menentukan. Sedangkan golongan lain mengatakan kita yang menentukan, Tuhan yang merestui.

Dan beberapa kontradiksi lain yang masuk akal. Terus, saya masuk golongan mana? Saya sendiri masuk golongan yang makan popcorn dan melihat mereka saling berdebat argumen.

Kontradiksi itu hanya sebagian kecil yang pernah saya galauin tentang konsep jodoh.

Saya sendiri masih bingung dengan yang dimaksud jodoh. Apakah jodoh dan belahan jiwa itu hanya satu orang saja? Ada beberapa hal juga yang sering saya pikirkan dulu. Mungkin kamu juga pernah memikirkannya.

1. Jika seseorang laki-laki berpoligami dan memiliki isteri lebih dari satu, lalu manakah jodoh yang sebenarnya?
2. Jika ada manusia yang pernah menikah kemudian dia menikah lagi karena kematian atau perceraian, lalu yang mana dikatakan jodohnya? Yang pertama atau berikutnya?
3. Jika ada manusia yang pernah menikah kemudian bercerai, lalu apakah dia tidak memiliki jodoh?
4. Kalau ada seorang manusia yang belum menikah sampai akhirnya ajal menjemputnya, apakah dia gak memiliki jodoh di dunia?
5. Kalau ada seorang laki-laki yang sudah ditetapkan menjadi pasangan seorang wanita oleh Tuhan, kemudian seiring berjalannya waktu laki-laki itu mati karena di bunuh oleh seseorang. Lalu apakah si wanita itu tidak memiliki jodohnya (dalam artian dipersatukan)?
6. Kalau kemudian (no.5) akhirnya si wanita mendapatkan pasangan hidup, apakah dia merebut jodoh orang lain atau memang dia memiliki jodoh lebih dari satu?
7. Kalau kita dalam menikah berlandaskan paksaan bukan karena keikhlasan, apakah itu jodoh?

Setelah saya bertanya-tanya tentang konsep jodoh di atas, saya juga terpikirkan tentang ciri-ciri dari cinta sejati itu seperti apa. Mereka bilang cinta sejati itu :

1. Cinta sejati itu katanya yang bisa menerima kita apa adanya.
2. Cinta sejati itu katanya yang membuat kita bisa menjadi diri sendiri.
3. Cinta sejati itu katanya yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.
4. Cinta sejati itu katanya yang bisa saling melengkapi.
Dan masih banyak lainnya.

Tapi saya sendiri palah berpikir bahwa bahasan tentang ciri-ciri cinta sejati yang saya tuliskan di atas hanya sebuah keinginan dan harapan orang yang mengatakannya saja. Bukan berarti saya menolak pendapat-pendapat itu, tentu saja saya sangat bersyukur jika memang saya mendapatkan wanita yang memiliki ciri-ciri di atas. Hanya saja saya masih bingung dan menggalaukannya bukan?

Walaupun sekarang tidak terlalu memikirkan hal itu, dimana saya menjadi golongan pemakan popcorn tapi saya sendiri sependapat jika jodoh itu memang bagian dari rejeki. Kalau jodoh itu bagian dari rejeki berarti kita harus berusaha bukan? Seperti halnya saya saat ini yang sedang memperjuangkan skripsi. Kalau skripsinya tidak saya buat kan tidak akan selesai. Kalaupun skripsinya lancar tapi tidak pernah di konsultasikan sama saja gak bakal selesai. Itu pun masih ada tahap-tahap lainnya. Doakan saya yak, yang lain udah pada lulus dan kerja tuh. Hemm.

Jodoh itu terkadang lucu, yang diperjuangkan mati-matian tidak kita dapatkan sedangkan saat kita beristirahat ada yang menemani dan akhirnya dikatakan sebagai "jodoh". Itu membuktikan kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur tapi ada usaha keluar untuk mengejar. Walaupun bukan orang yang pertama kita inginkan. Terus kalau kita menolak orang itu gimana? Terus kalau kita berhasil mengejar orang itu? Terus kalau kita akhirnya pergi dan suatu waktu seseorang yang kita kejar dulu kembali dan mencari gimana? Entah itu berakhir bahagia ataupun kelam (lagi)?

Gimana suk? suk? Gimana? Arghhhh...! Pusing juga daku ini.

Kita memang sering menggalaukan mana yang IYA, mana yang TIDAK, dan mana yang BELUM.

Tuhan bisa berkata IYA ini jodoh kamu.
Tuhan bisa berkata TIDAK ini bukan jodoh kamu.
Atau Tuhan berkata BELUM, sekarang belum saatnya kamu bersama dengannya.

Saya sendiri meyakini setiap orang memiliki jalan masing-masing dan akan mendapatkan jawaban yang prosesnya tak selalu sama dengan orang lain. Entah kenapa proses mencari jawaban ini menyenangkan walaupun terkadang membuat pusing dan saya terima begitu saja.

Ada satu kisah lagi yang lucu tentang jodoh dengan analogi seorang pendaki. Ada pendaki yang ingin berjuang bersama dengan pasangan pendakiannya dari basecamp. Ada pendaki yang akhirnya justru harus melepaskan pasangan pendakiannya setelah dia berada di puncak atau dalam perjalanan. Ada pendaki yang menunggu pasangannya di puncak. Ada pendaki yang akhirnya tumbang. Tapi, ada juga pendaki yang berjuang sendiri sampai akhirnya di perjalanan menuju puncak dia bertemu dengan pasangannya yang sama-sama berjuang. Jangan lupa dalam mendaki kita juga harus menikmati proses dan pemandangan yang Tuhan suguhkan.

Saya dulu selalu bermimpi memiliki pasangan yang memulai bersama dari titik nol sampai akhirnya mencapai puncak kesuksesan bersama. Sangat indah dan penuh cerita bukan? Tapi sekarang saya adalah pendaki yang berjuang sendiri menuju puncak dan berharap bertemu dengan seorang yang memiliki mimpi yang sama. Iya, mimpi. Tuhan memang tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan selalu mengabulkan apa yang kita butuhkan kok.
"Halah, alasan! Kamu ngomong gitu karena kamu jomblo kan? Jones palah!"
Hem.. oke-oke, saya memang jones, puas? Sedih aku. Hiks.

Ketika nanti pada akhirnya kita menemukan jodoh satu hal yang pasti yaitu kita harus menjaga jodoh yang menjadi pasangan kita itu. Tidak hanya membiarkan dan melepaskan begitu saja. Semua yang kita dapatkan adalah ujian. Karena sejatinya ujian tidak hanya datang saat kita sedih, tapi juga bahagia. Dimana saat bahagia apakah kita dapat bersyukur dan lain sebagainya.

Saya juga terkadang berpikir apakah Tuhan membiarkan kita mendapat pasangan yang salah karena usaha ngotot kita? Seperti halnya Tuhan membiarkan kita saat berbuat dosa? Agar kita berpikir dan semua ini adalah bagian dari ujian-Nya. Karena pada akhirnya yang menjalani setiap keputusan yang kita ambil adalah kita sendiri. Hemm.. berat pak!

Saya percaya dengan takdir dan sangat tidak percaya dengan kebetulan. Lalu jodoh itu suatu takdir yang bisa dirubah atau sudah mutlak? Hemm, saya pun masih bertanya-tanya.

Selamat menempuh hidup baru buat teman-teman yang sudah mendapatkan jodohnya. Jangan lupa untuk saling menjaga, mengisi dan berbagi. Semoga menjadi keluarga yang penuh dengan kedamaian, cinta dan kasih sayang. Maaf kalau gak bisa datang dan kemungkinan sangat tidak akan datang kalau tidak dapat undangan secara personal. Mungkin ada alasan tertentu. Saya mengerti itu, walaupun saya tidak ada dalam undangan tapi doa saya menyertai kebahagiaan kalian.

Yang belum bertemu (dipersatukan) dengan jodohnya kamu gak sendirian kok. Hahaha. Semoga lekas dipersatukan bagi yang ingin segera dipersatukan.

Aamiin :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar