Selasa, 15 November 2016

AADC 2 dan Pledoi si Jomblo


Awalnya tulisan ini akan berjudul "Kenapa Masih Sendiri? Pledoi si Jones", tapi sepertinya itu terlalu menyakitkan walaupun itu adalah sebuah kenyataan yang patut saya terima. Saya juga tak mau terlalu membela diri dengan menyebut diri saya dengan predikat single, toh kedua hal itu sama-sama tidak memiliki pasangan hidup.

Suara nada khas dari BBM muncul setelah beberapa menit saya membuat status tentang keinginan saya bertahan di Jogja. Sebuah chat masuk dari teman lama SMA dulu. Menanyakan apakah saya sedang berada di Jogja atau tidak.

Setelah memberi tahu alamat lokasi saya tinggal di Jogja, saya menantinya dengan sedikit merapikan kamar kos yang berantakan kala itu.

Obrolan seperti biasa tentang menanyakan kabar dan keberadaan teman lainnya menjadi pembuka. Membicarakan tentang hari bahagia teman SMA yang akan segera datang menjadi paragraf selanjutnya. Sampai akhirnya menanyakan pasangan satu sama lain.

"Kamu sendiri gimana?" Tanya temanku itu. Yang sebelumnya memberi tahu kalau dirinya sudah memiliki pasangan tapi enggan untuk menyebutkan nama.

"Masih jomblo, ya terakhir waktu SMA kelas dua itu sama Sia".

Saya memang sering mendapat label jomblo atau bahkan jones dari teman-teman kampus. Dimana sampai sekarang ketika saya menulis ini label itu masih enggan untuk saya pensiunkan. Karena saya pikir cinta adalah soal rasa yang berasal dari hati. Bukan hanya sekedar merubah status dari single menjadi taken dan pengalaman di masa lalu mungkin juga ikut andil dalam masalah hati ini. 

"Betah lu bhik?"

Kalimat seperti ini sering kali saya dengar atau saya baca dari banyak teman yang menanyakan keteguhan hati ini untuk menjomblo. Cuma beda nada dan susunan kalimatnya. Selebihnya sama.

Saya tersenyum dan menjawabnya dengan singkat : "Yaa, kalau dibilang pengen pacaran sih sebenarnya terkadang pengen juga".

Teman saya itu sependapat dengan saya. Entah memang dalam hatinya berkata demikian atau hanya mencoba menenangkan dengan berucap: "Iya, bisa bebas".

Pacaran di usia saya sekarang itu harus selalu memikirkan masa depan. Tidak lama pasti sang wanita bilang :"Bapak dan Ibu pengen ketemu kamu. Kamu bisa kerumah kapan?". Sedangkan perkerjaan belum ada yang mendatangkan penghasilan.

Atau paling tidak seperti ucapan ayahnya Cinta yang bilang: "Rangga, kalau kuliahnya sudah selesai cepat kembali ke Jakarta dan cari kerja. Jangan sampai Cinta menunggu kelamaan. Kasihan dia". Dimana nasib kuliah saya sekarang tak jauh beda dengan Rangga yang ada di dalam cerita. Berantakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar