Senin, 21 November 2016

Cerita Pemotretan : Serangan Semut

Photo via Unsplash (Thomas William)
18 November 2016 - Kalau sebuah hari dimulai disaat orang bangun dan beranjak dari tempat tidur, mungkin sekitar pukul 3.38 pagi bukanlah awal dari hari yang akan saya lalui. Karena pada akhirnya diri ini melanjutkan untuk kembali terlelap dan akhirnya satu jam kemudian baru beranjak dari tempat yang memiliki gaya gravitasi tinggi itu. Seperti biasa saya kurang istirahat dan terlelap di larut malam.

Setelah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan di pagi hari dan menyiapkan perlengkapan fotografi, saya bersiap untuk bergegas melakukan pengambilan foto buku tahunan. Berdua dengan rekan. Tapi setelah beberapa menit tidak kunjung datang juga yang katanya pukul tujuh.

Pengambilan gambar buku tahunan berada di sekitar rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Ketika sampai disana terlihat beberapa perbedaan. "Seberapa lama itukah saya tidak datang ke kampus?" pikir saya ketika melihat pembangunan gedung baru untuk S2 yang sedang dibangun dan terdapat lahan parkir baru. Cukup disayangkan, karena tempat yang dijadikan pembangunan adalah lahan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran.

"Aah..!!!" Teriak saya disusul rekan saya. Serangan semut ngangrang menggigit kaki dan mulai merambat ke seluruh badan. Entah kenapa mereka seperti makhluk yang bisa melihat dan mengejar kami sebagai mangsa. Sepertinya kami sudah ditandai oleh mereka. Tapi anehnya yang diserang orangnya itu-itu saja. Gigitannya (kagak tahu sebutan tepatnya apa, toh walaupun semut kagak punya gigi tapi sudah biasa disebut begitu) itu lho, bisa menembus celana dan kaos kaki. Begitupun dengan rasa gigitannya. Hmm, super sekali.

Pemotretan tetap dilanjutkan dan hari ini empat kelompok berhasil di proses pengambilan gambarnya. Padahal niat awal adalah pemotretan bersama satu kelas dan pengambilan semua anggota kelompok yang berjumlah 6 kelompok. Karena beberapa alasan dari klien hal itu tidak sesuai dengan rencana.

Hari kini sudah mulai petang dan hujan pun turun dengan syahdunya. Waktu-waktu itu saya dan rekan saya habiskan di dalam kamar kos untuk melihat film dan mengedit foto ditemani camilan keripik singkong pedas.

Hal itu tak berlalu sampai larut malam seperti pengerjaan buku tahunan sebelumnya. Karena saya ada janji dengan teman-teman yang saya kenal di KKN. Untuk berbincang dan menikmati kopi bersama. Sudah beberapa pertemuan saya tidak bergabung dengan mereka. Akhirnya saya memiliki waktu untuk bergabung dengan mereka. Bukan karena saya sibuk tapi memang waktu dan tempat yang tidak berjodoh. Saya pun bergegas sendiri, setelah sebelumnya mengajak rekan saya yang menolak karena memiliki keperluan lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar