Minggu, 20 November 2016

Sendiri Menyendiri

Photo via Unsplash (Joseph Barrientos)
Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, saya masih setia memandang dua buah laptop yang selalu menemani di dalam kamar sewa di Jogja. Dua laptop yang saya gunakan untuk menulis sedangkan yang satunya untuk menonton film atau sekedar mendengarkan musik kesukaan.

Pagi yang sunyi membawa otak dan hati untuk saling mengerti. Niat hati untuk menulis dua atau tiga buah cerita yang ada dalam draft. Namun akhirnya, malam yang sunyi ini membawa saya menulis sebuah prosa yang saya temukan di lembaran kertas lama. Sebuah prosa berjudul Kembali yang tidak masuk dalam rencana awal dan akhirnya saya posting di blog.

Sebuah kisah prosa yang datang dalam hidup saya. Walaupun tidak saya alami langsung secara fisik. Yah, karena itu datangnya lewat mimpi. Sebuah bunga dalam tidur. Entah kenapa terkadang saya sering terganggu dengan bayangan khayalan atau mimpi yang datang dalam tidur lelap. Karena banyak dari mereka akhirnya terjadi di dalam dunia nyata.

Setelah menunggu Shubuh dan melakukan kewajiban di pagi hari, selang kurun waktu satu jam tubuh dan mata ini tidak kuat lagi untuk terjaga. Saya pun terlelap. Sebuah penyakit kebiasaan yang datang semenjak berhadapan dengan skripsi dan semester akhir. Namun, sepertinya akhir-akhir ini sudah kembali ke kehidupan normal.

Siang ini saya menuju kampus mencoba untuk mengurus sebuah tugas akhir dan berbincang hangat dengan dosen pembimbing. Menolak ajakan teman-teman yang sering datang di hari Senin. Sebuah ajakan nonton di bioskop dengan harga yang miring. Pas untuk kantong mahasiswa. Setidaknya mahasiswa seperti saya. Walaupun saya terkadang sering tidak ikut karena urusan kantong. Sepertinya sudah beberapa minggu ini saya tidak bergabung dengan mereka. Tapi tak apalah. Biarlah.

Siang ini saya setia menunggu dosen pembimbing di depan laboratorium komputer lantai tiga. Sendiri menyendiri. Sebelumnya saya memang tidak menghubungi beliau. Dosen ini berbeda. Saya tidak perlu membuat janji untuk bertemu. Namun, penantian tak sesuai dengan harapan. Setelah beberapa mahasiswa keluar dan salah satu dari mereka berkata kepada saya kalau dosennya tidak mengajar dan kelas pun kosong. Dimana dosen yang dimaksud juga merupakan dosen pembimbing saya.

Saya memiliki kehidupan kecil yang terkadang saya lakukan. Yang membuat saya merasa tenang dan nyaman. Sebuah hal yang bisa menghibur saya. Hal itu adalah pergi sendiri ke suatu tempat baru dengan mengendari sepeda motor, bersepeda atau berjalan kaki. Kalau hal ini datang, malam hari pun saya akan berjalan menyusuri kesunyian. Mengelilingi kampus dengan berjalan kaki sendiri di malam hari pun pernah saya lakukan. Sendiri menyendiri.

Sepertinya berkeliling kota Jogja bisa sangat menyenangkan pikir saya. Setelah pikiran ini datang, membuat saya merasa tidak mau kembali dan berlama-lama di dalam kamar. Seperti ada sesuatu hal yang menekan tubuh saya kalau hal ini tidak dikeluarkan. Saya memang selalu melakukan hal ini dengan spontan dan tanpa perencanaan.

Seperti biasa, saya tidak tahu arah dan tujuan saya akan kemana. Hanya saja menghabiskan waktu di bawah sinar sore yang hangat itu sangat menyenangkan. Namun sepertinya saya sudah menemukan arah tujuan saya. Pergi ke Bantul merupakan suatu perjalanan yang akan saya tuju. Setelah menyusuri jalan menuju arah Bantul, saya pikir menuju pantai sesuatu hal yang menyenangkan. Laju motor saya hentikan. Mampir untuk sekedar membeli beberapa roti dan air mineral untuk bekal merupakan sesuatu hal yang saya perlukan.

Hujan kini turun dengan derasnya. Entah kenapa hasrat menuju pantai palah semakin kuat. Hujan deras pun saya terjang dengan santainya. Santai saja, menikmati setiap tetesan air menimpa tubuh juga suatu hal yang menyenangkan. Yah, walaupun berselimutkan mantol. Pantai Depok dekat landasan pacu lebih sepi dan nyaman daripada pantai Parangtritis saya rasa. Dengan modal perasaan, kemudi ini pun membelok ke arah Pantai Depok.

Hujan kini sedikit reda, tapi mantol tetap terjaga di atas badan. Menyelimuti tubuh yang kian merindukan hawa segar pepantaian. Pos retribusi saya lewati tanpa hambatan. Mata ini saling bertatapan dengan penjaga. Tapi mereka berdua tidak berdiri dan mencoba menghentikan. Yasudah, saya melanjutkan perjalanan.

Sampai pintu masuk landasan pacu saya tidak menemukan orang. Tidak ada yang menjaga seperti biasa dan jalan masuk terhalang gerbang dari bambu yang terkunci. Saya pun turun dari sepeda motor dan memarkirkannya di pinggir jalan. Langkah kaki ini kini menuju landasan pacu.

Desiran ombak yang mendayu-dayu saya lihat dari kejauahan dan beberapa orang akhirnya saya temukan. Beberapa motor pun saya lihat. Lewat mana mereka pikir saya. Saya pun membalikan badan menuju motor. Mencari jalan masuk yang mereka lewati.

Kini saya melangkahkan kaki kembali menuju pantai setelah memarkirkan motor di sebuah lahan kecil yang datar. Walaupun motor tidak saya masukan ke dalam daerah landasan pacu. Tak perlulah saya rasa.

Mantol yang saya bawa dengan niat awal jaga-jaga kalau hujan kini sudah berganti menjadi alas untuk tas dan sekedar untuk duduk. Tidak lengkap rasanya kalau di pantai tanpa menikmati air lautnya. Tidak perlu saya jelaskan apa yang terjadi selanjutnya.

Tubuh ini kini saya baringkan di atas mantol dan menikmati setiap momen yang Tuhan suguhkan lewat ciptaan-Nya. Kemeja panjang flanel pun saya lepas dan merasakan semilir angin pantai lebih intim.

Suasana pantai kini kian ramai. Walaupun tak seramai pantai Parangtritis saya rasa. Banyak dari mereka bersama rombongan atau hanya sekedar berdua. Sedangkan saya sendiri menyendiri menikmati sunset di tanah asing.

Matahari kian terbenam dan senja sudah tak lagi menemani. Para pelancong kini banyak yang kembali. Sedangkan saya asik melompat dari ketinggian tumpukan pasir menuju hamparan pasir pantai yang luas. Biarlah, saya bebas.

Pantai kini menyisakan tiga orang yang masih setia dengannya. Saya dan dua orang pengendara vespa yang sedari tadi berbincang di dataran pasir di atas saya tidur. Suasana semilir angin, cerahnya langit sehabis hujan, hangatnya senja, suara menenangkan dari deburan ombak yang bersahabat dan kesendirian, itulah yang sedang saya nikmati. There is a rapture on the lonely shore. Sebuah kutipan dari penyair Inggris, Lord Byron, mungkin bisa sedikit menggambarkan.

"Beneran sendiri mas?" Tanya salah satu pengendara vespa tadi. Yang sebelumnya saya dan mereka  sudah sedikit mengobrol. "Iya" Jawab saya dengan santainya.

"Lagi galau masalah cewek ya?"

Saya tertawa mendengar pertanyaan mereka. Ingin rasanya bergabung dengan mereka dan bercanda gurau menghabiskan malam. Bersama menikmati cemilan yang sebelumnya telah saya beli. Mereka pun juga sudah menawarkan rokok. Tapi niat itu saya urungkan. Saya sendiri bukan perokok tapi bukan itu alasannya. Hanya saja ada sesuatu hal yang harus segera saya kerjakan. Saya pun berpamitan dengan mereka. Hari ini sangat menggembirakan.

Entah saya orang yang introvert atau extrovet. Saya tidak mau memikirkan hal itu. Biarkanlah saya menjalani hidup tanpa harus terkekang dinding kepribadian introvert atau extrovert atau bahkan ambivert. Tak perlu saya mengakuinya, biarkan orang yang menilanya.

Namun yang pasti ketika saya bersama orang dalam lingkungan sosial masyarakat saya menikmati hal itu. Dan ketika saya sendiri menyendiri itu juga sangat saya nikmati. Karena hati ini tidak merasa sepi. Kalau hati ini merasa sepi, di keramaian pun akan merasa sendiri dan di kesunyian pun akan merasa hilang.

-7 November 2016 - 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar