Selasa, 22 November 2016

Catatan Pagi

Photo via Unsplash (Treza Trisnandhy)
Sabtu pagi ini setelah menghabiskan banyak waktu di depan laptop, pergi keluar untuk mencari soto sepertinya suatu hal yang menyenangkan untuk sarapan. Kondisi memang sedang tidak lapar tapi sarapan sekali-sekali tak apalah pikir saya. Saya memang tidak biasa sarapan sejak duduk di bangku SMP. Sebuah kebiasaan yang tidak baik katanya. Lingkungan di sekitar kos memang banyak sekali penjual makanan yang menyuguhkan masakan enak yang ada di setiap pagi atau malamnya. Atau bahkan sepangjang hari.

Jam sudah menunjukan pukul 7 tapi suasana kos masih sepi dan banyak pintu yang masih tertutup.

Keluar gerbang, sedikit melangkahkan kaki akhirnya diri ini sudah duduk di bangku penjual soto yang dekat dengan kosan. Soto dan teman makanan lainnya seperti keripik tempe dan aneka ragam sate kini sudah dihidangkan di depan mata.

Datang sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang biasa saya temui sebelum adzan Shubuh. Atau paling tidak sebelum iqomah. Dimana Shubuh belakang ini lebih awal dari biasanya. Mereka yang biasa saya temui di jalanan komplek ditemani beberapa ekor anjing peliharannya.

Tapi hari ini saya baru bertemu mereka di tempat penjual soto. Karena sebelum Shubuh ini saya masih terlelap.

Mereka adalah sepasang manusia yang mengangkut sampah setiap paginya dari rumah satu ke rumah lainnya. Sebuah pekerjaan yang sangat penting dan tidak semua orang tahu. Entah keberadaan atau kegiatan mereka. Sebuah pekerjaan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan sebuah masyarakat. Saya sebut mereka pahlawan pagi.

Sudah setengah porsi soto saya habiskan. Lewat seorang laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh beda dengan kedua pahlawan pagi. Saling menyapa dan melakukan pembicaraan singkat terjadi begitu saja. Sebuah perilaku sosial yang arif yang sangat saya sukai namun jarang saya lakukan. Saya memang suka berkomunikasi dan bersosialisasi tapi untuk melakukan pembicaraan pertama atau sekedar menyapa saya rasa tidak. Sebuah kebiasaan yang muncul ketika selama beberapa tahun menyapa tapi tidak ada respon baik dari lawan bicara saya. Entah itu orang baru atau orang yang sudah lama saya kenal. Sekriminal itukah wajah saya?

Hal ini memang bukan suatu yang patut saya jadikan sebagai alasan. Sekarang saya berusaha kembali membiasakan diri dengan perilaku yang arif ini.

Selang beberapa menit bapak paruh baya yang sedang melakukan jogging pagi tadi kembali. Dimana beliau adalah dosen di salah satu universitas yang terkenal di Indonesia. Melakukan pembicaraan yang lebih lama dengan penjual soto dan kedua pahlawan pagi. Namun masih tergolong sebuah pembicaraan yang singkat.

"Nggo pak (ini pak)" Kata bapak dosen tadi sebelum langsung pergi melanjutkan kegiatan dan menyodorkan uang bergambar pahlawan bernama Igusti Ngurah Rai. Sebuah pemandangan indah yang bisa saya temui di pagi hari ini. Semoga saya bisa selalu seperti itu. Bukan mendapatkan pemberian uang tapi menjadi orang yang bisa memberi. Dimana setiap pagi pak dosen terbiasa memberi uang kepada orang yang ditemui yang menurutnya membutuhkan. Sepertinya hal ini bukan kali pertama sang pahlawan pagi mendapatkan rekeki lewat sang dosen setelah apa yang saya dengar selanjutnya.

Sebuah catatan kecil untuk saya bahwa hidup ini harus dijalani dengan arif dan bermanfaat. Dimana sang pahlawan pagi berjasa dan bermanfaat bagi masyarakat lewat apa yang mereka kerjakan demi kelangsungan hidup masyarakat. Sang dosen yang hidup dengan membawa manfaat bagi sesama. Dan mereka yang menjalani hidup arif dengan saling berkomunikasi dan menghormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar