Minggu, 04 Desember 2016

Nasihat Ibu

Photo via Unsplash (Paul Earle)
Suap demi suap nasi mengisi perut menemani perbincangan dengan keluarga di malam yang tak berhujan. Di rumah memang seperti ini, ketika saya pulang ada saja berbagai masakan dan makanan enak. Entah itu sengaja saya pesan sedari di Jogja ataupun tidak. Maklum, ibu saya penjual nasi sayur. Tak terbayang badan ini akan menjadi seperti apa kalau berlama-lama berada di rumah. 

Piring kini bersih dari makanan yang menumpuk sebelumnya. Walau porsi makanan tak sebanyak laki-laki seumuran pada umumnya, tapi berbagai jenis masakan berada di atasnya.

Bapak kini keluar entah memberi makan bebek atau sekedar membakar rokok gudang garamnya. Kini tinggal menyisakan saya dan ibu(k) di ruang tengah.

"Dek, nanti kalau sudah lulus, pekerjaan di Kuningan tidak usah diambil saja." Ibu berkata dengan lembut. Saya memperhatikan sambil melahap cokelat sebagai makanan pencuci mulut ala-ala saya.

Pernah suatu ketika saya bercanda bilang ke ibu saya kalau nanti kembali ke tempat KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang pernah saya buat magang dulu, saya disuruh sekalian membawa surat lamaran pekerjaan. Walaupun cuma bercanda tapi sebenarnya pemilik perusahaan tempat KKL memang pernah menyuruh saya dan teman magang disana sekalian membawa surat lamaran pekerjaan kalau ingin berkunjung dan kembali ke perusahaan. Sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang minyak, gas dan properti.

Ibu takut kalau saya bekerja disana nanti saya bakalan kecantol cewek sana yang memiliki gaya hidup dan pola hidup yang tidak disukai oleh ibu saya. Ibu memang tidak berniat menggenenalisir semua cewek di sana memiliki gaya hidup dan pola hidup yang sama. Tapi nasihat ibu bukan tanpa alasan. Karena ibu saya sendiri juga berasal dari daerah sekitar sana. Ya! Saya memang lahir dan besar di Jawa tapi bisa dibilang saya bukan seratus persen orang jawa. Keluarga bapak lah yang asli dari jawa.

Ini merupakan nasihat kedua yang saya ingat dari ibu tentang memilih wanita. Waktu itu entah SMP atau SMA ibu pernah bilang kalau mencari wanita itu yang berwajah manis daripada cantik. Karena wajah yang manis akan bertahan daripada cantiknya rupa dengan seiring berjalanannya waktu.

Saya dan keluarga memang sering berdiskusi dan berbincang santai tentang apa saja. Tapi untuk masalah cinta dan wanita, saya tak pernah bercerita. Hanya sekali saya bercerita kalau saya sedang suka dengan seorang wanita. Itu pun dengan kakak laki-laki saya sewaktu SMA.

Ibu dan Bapak memang selalu membebaskan anak-anaknya memilih apa saja yang mereka suka dan menjalaninya. Termasuk soal wanita. Walaupun membebaskan tapi tentu saja kedua orang tua saya akan memberi masukan-masukan yang bisa diambil anak-anaknya. Sadari saja mereka pernah menjadi remaja sedangkan anak-anaknya belum pernah merasakan menjadi orang tua.

Jadi kalau ada orang yang bertanya wanita yang ideal buat saya seperti apa, tanya saja dengan ibu saya. Karena saya sendiri sampai sekarang belum menentukan secara spesifik wanita seperti apa yang akan saya perjuangkan. Paling akan saya jawab: berjenis kelamin wanita sejak lahir, seiman, dan sehat jasmani maupun rohani.

Ah... sebentar... sepertinya sudah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar