Kamis, 15 Februari 2018

Mimpi Saya Menjadi Seorang Santri

Photo via Unsplash (Sophia Valkova)
Waktu itu usia saya sekitar 13 tahun baru saja lulus dari sekolah dasar. Dalam hati terbesit untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Bukan sekolah formal di SMP negeri. Hal itu pun saya ajukan kepada kedua orang tua. Namun restu tidak saya dapatkan dan akhirnya terjerumus masuk ke dalam sekolah terfavorit  di kabupaten. Dimana butuh waktu sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke sekolah tersebut dengan menggunakan bus. Itulah pertama kalinya saya ingin menjadi seorang santri. Bukan karena ingin merayakan hari santri tapi memang berasal dari hati.

Dua belas tahun berlalu akhirnya mimpi itu bisa terwujudkan. Saya Sukma Kurniawan yang sekarang masih duduk di bangku kuliah semester 12 prodi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa menjadi seorang santri. Memori masa lalu yang agak kabur itu terulang. Dimana saya dengan polosnya meminta untuk bisa melanjutkan ke pondokan. Entah apa yang akan terjadi jika waktu itu sudah bisa menjadi seorang santri. Mungkin bisa lebih terjaga dari segala maksiat dan keburukan karena pergaulan yang mendukung. Atau akan menjadi seperti apa, saya tak tahu. Tapi tak perlulah untuk berandai-andai.

Ketika mendaftarkan diri menjadi seorang santri tidak luput untuk saya beritahukan ke Ibu karena memang di keluarga kami terbuka untuk adanya diskusi. Terutama saya sendiri sudah menjadi seorang mahasiswa. Antara orang tua dan anak bisa mengobrol dengan santai. Sedangkan kepada Bapak tidak karena Bapak sudah meninggal tepat satu tahun yang lalu di bulan Januari. Bulan yang sama ketika saya mendaftarkan diri menjadi seorang santri. Semoga Bapak diterima di tempat terbaik di sisi Allah.

Kabar itu saya sampaikan melalui pesan singkat dan ibu saya pun merespon. Isi pesan singkatnya kurang lebih seperti ini, yang mana sudah saya ubah ke bahasa Indonesia: Jadi santri dimana? Jangan ikut aliran-aliran yang aneh-aneh. Begitulah jawaban pesan singkat ibu saya dan setelah saya jawab “di UNY”, Ibu saya pun meng-iyakan tanda setuju dan berpesan untuk tidak meninggalkan tanggung jawab di perkuliahan yang tinggal menempuh skripsi.

Kedua orang tua saya melarang saya waktu itu menjadi santri mungkin punya alasan tertentu. Tapi yang pasti bukan karena dilarang untuk belajar agama. Buktinya ketika duduk di bangku TK dan SD saya diikutkan di dua tempat ngaji yang berbeda. Saya tidak dilarang untuk belajar agama di sekolah. Saya tidak dilarang ketika mengikuti kajian di masjid di dekat rumah. Saya pun juga tidak dilarang ketika mengikuti kajian di suatu tempat yang butuh waktu tempuh perjalanan berjam-jam.

Saya memang bukan menjadi santri disuatu pondok pesantren. Namun menjadi santri di sebuah lembaga yaitu Lembaga Pendidikan Islam Muhajidin (LPIM) UNY. Yaitu sebuah lembaga yang berada di masjid Muhajidin. Masjidnya kampus UNY. Walaupun demikian, tidak membuat saya lepas dari rasa bahagia. Ada empat kelas yang bisa diikuti dengan biaya pendaftaran yang beragam. Kelas pertama adalah kelas bahasa Arab untuk mengenalkan kosakata, percakapan dan kaidah bahasa Arab. Kitab yang digunakan adalah Durusu Lughah.

Kelas kedua adalah Tahsinul Qur’an untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan metode yang digunakan adalah qiro’ati. Kelas ketiga adalah kelas Hifdzil Quran yaitu kelas untuk para penghafal Al-Qur’an dengan target yang dihafal adalah surat Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, juz 28,29 dan 30. Kemudian kelas yang terakhir adalah Madrasah Tulabiyah yaitu pendalaman kajian keislaman. Pada kelas Madrasah Tulabiyah sendiri masih dibagi menjadi tiga kelas yaitu MT1, MT2 dan MT3. MT1 berisi tentang ilmu Al-Quran dan ilmu Hadits. MT2 berisi qa’idah fiqh dan strategi dakwah sedangkan MT3 berisi tentang fiqh dakwah/ budaya ilmu. Setiap santri bebas memilih kelas yang ingin diikuti. Bisa satu kelas atau lebih.

Alhamdulillah segala prosesnya dimudahkan termasuk biaya pendaftaran karena sebelumnya tak saya sangka bisa mendapat pemasukan dari pekerjaan yang Alhamdulillah sangat membantu. Begitupun dengan kemudahan-kemudan lain yang tak pernah saya bayangkan. Juga lika-liku dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak pernah saya duga. Mungkin lain kali bisa saya ceritakan. Semoga saya bisa istiqomah. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar