Sabtu, 17 Maret 2018

Perjalanan Pertama Menggunakan Kereta Api Indonesia

Photo via Kereta Api Indonesia
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke ibukota, Jakarta. Untuk mengikuti sebuah acara yang sudah lama ingin saya hadiri. Hal pertama yang saya siapkan tentu saja adalah akomodasi dan transportasi. Setelah mendapatkan tempat untuk menginap, saya pun mencari transportasi untuk menuju ke tempat tujuan. Entah kenapa yang terpikirkan di benak saya adalah menggunakan kereta api. Padahal banyak moda transportasi lain yang bisa mengantarkan diri ini menuju Jakarta dari Yogyakarta. Yaitu menggunakan mobil travel, bus, juga pesawat terbang. Mungkin karena yang ada di dalam pikiran saya sewaktu mendengar kata “Kereta Api” adalah murah dan mudah. Tapi apakah itu benar?

Kalau dibandingkan dengan moda transportasi darat lainnya harga tiket kereta api Indonesia bisa dibilang tidak jauh berbeda. Berbeda lagi kalau dibandingkan dengan harga tiket menggunakan pesawat terbang. Terakhir saya cek dengan kelas yang sama (yang paling murah), harga tiket pesawat terbang lebih dari dua kali lipat harga tiket kereta api. Tentu saja ini tidak masalah bagi mereka yang lebih mengutamakan kecepatan waktu tempuh. Karena lama penerbangan dari Yogyakarta menuju Jakarta terbilang singkat yaitu sekitar 1 jam 30 menit. Bisa dibilang belum sempat tidur, sudah sampai saja di tujuan. Tanpa adanya penundaan pernerbangan tentu saja. Berbeda dengan menggunakan kereta api yang harus menempuh waktu sekitar delapan hingga sembilan jam.

Selanjutnya kalau ditinjau dari segi kemudahan, memesan tiket kereta api pada era serba internet ini tentu saja sangat mudah. Kita hanya butuh membuka situs dan mengisi data selain harus membayarnya juga di akhir nanti lewat salah satu jenis pembayaran yang disediakan. Bisa lewat atm bersama, atm prima dan lain sebagainya. Atau bisa juga memesan tiket dengan menggunakan aplikasi yang tersedia di App Store dan Play Store.

Selain kemudahan untuk pemesanan tiket, pengguna kereta api Indonesia juga dimudahkan ketika proses pencetakan tiket di stasiun. Pencetakan tiket ini diperuntukan bagi pengguna kereta api yang sebelumnya memesan tiket secara online. Ini dibuktikan dengan banyaknya komputer yang disediakan sehingga proses antrian tidak begitu panjang dan waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama karena hanya tinggal memasukan nomor pemesanan. Tapi, karena saya baru pertama kali bertemu dengan sistem semacam ini maka hal ini membuat saya sedikit lebih lama di depan komputer. Dikarenakan kesalahan dalam memasukan nomor pesanan. Sebenarnya di stasiun banyak kurir barang yang bisa dimintai tolong tapi karena ketidaktahuan saya sebelumnya maka saya pun berusaha sendiri.

Selain kegagapan saya ketika berhubungan dengan nomor pesanan, ada peristiwa lain yang bisa dijadikan pelajaran. Ketika sampai di stasiun maka langkah selanjutnya bagi mereka yang memesan tiket via online adalah menuju deretan komputer untuk mencetak tiket. Yang mana proses pencetakannya dilakukan sendiri tanpa bantuan dari petugas stasiun. Namun yang saya lakukan sebelumnya palah ikut mengantri di loket tiket. Tapi entah kenapa hal ini tidak membuat saya merasa malu. Hal-hal baru semacam ini merupakan suatu hal yang menyenangkan. Selain menambah ilmu juga bisa dijadikan sebagai bahan untuk bercerita.

Memasuki Kehidupan di Dunia yang Berjalan

Setelah menunggu sekitar satu jam, kereta yang akan membawa saya pun datang. Saya memang sengaja datang jauh lebih awal dari waktu keberangkatan hanya untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Namanya juga pengalaman pertama yang mana tidak tahu apa saja yang harus dilakukan. Sembari menunggu, seperti biasa saya selalu memperhatikan situasi dan bagaimana semuanya berjalan. Para kurir barang yang sigap membantu calon-calon penumpang untuk mencetak tiket dan membawakan barang, para calon penumpang yang berdirian setelah kereta yang akan mengantarkan mereka telah diumumkan lewat pengeras suara, pegawai stasiun yang dengan tekun membersihkan lantai untuk kenyamanan dan berbagai macam kegiatan para calon penumpang dalam menunggu keberangkatannya.

Waktu itu saya memulai titik keberangkatan di stasiun Lempuyangan. Sebelum memasuki area jalur rel, ada pemeriksaan tiket terlebih dahulu. Ditambah dengan pengecekan kartu identitas KTP. Kemudian menuju jalur kereta api yang sesuai dengan yang tertera pada tiket. Pada momen ini saya sedikit panik karena saya tidak tahu jalur mana yang ditunjukan pada tiket dan waktu sudah menuju jam keberangkatan. Saya pun bertanya ke kurir yang ada di sebelah kanan saya. Sang kurir pun menjawab dengan baiknya walaupun terdengar seperti bernada ketus. Kemudian saya pun bergegas menuju jalur yang ditunjukan sang kurir dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah berjalan saya baru sadar ternyata keterangan nomor jalur tertera di bagian atas stasiun.

Saya pun menuju kereta dan kemudian mencari nomor gerbong tempat saya duduk. Tidak lupa mencari nomor kursi setelah sebelumnya bertanya dengan sepasang muda-mudi. Setelah sampai di kursi yang sesuai dengan yang ada di tiket, saya merasa sedikit kecewa dengan apa yang saya lihat. Ada dua kekecewaan yang saya rasakan. Pertama, kursi yang sesuai dengan nomor kursi di tiket sudah diisi oleh orang lain. Dimana posisi yang saya pesan waktu itu adalah dekat dengan jedela. Namun setelah sedikit mengobrol saya pun merelakannya. Saya pun duduk disamping orang yang menduduki kursi pesanan saya.

Kedua, kursi yang saya duduki membelakangi arah tujuan. Itu bisa membuat saya merasa pusing ketika perjalanan. Yang ada di dalam pikiran saya sewaktu memesan posisi kursi via aplikasi adalah bahwa setiap kursi mengarah ke arah tujuan (depan).  Sama seperti posisi kursi di bus dan pesawat pada umunya. Kalau kereta ekonomi yang saya pesan ternyata setiap dua baris saling berhadapan. Seperti apa yang ada di dalam scene perjalanan menggunakan kereta api pada film 5cm.

Pukul 9 pagi tepat sesuai jadwal keberangkatan, kereta pun melaju membawa kami para penumpang menuju tempat tujuan. Waktu itu dua baris kursi yang saling berhadapan, dimana setiap baris terdiri dari dua kursi terisi oleh tiga orang anak muda termasuk saya dan satu orang laki-laki berumur.

Tidak butuh waktu lama kami bertiga yang masih muda ini mulai akrab. Perbincangan demi perbingangan mengisi perjalan kami. Sedangkan laki-laki berumur tadi lebih banyak diam dan sering pergi meninggalkan gerbong dan menuju ke gerbong lain setelah meninggalkan telepon genggamnya menancap di colokan listrik yang disediakan oleh pihak kereta api. Ternyata di kereta kelas ekonomi yang sudah ber-AC ini disediakan pula fasilitas pengisian daya listrik . Sebuah hal yang sangat bermanfaat bagi penumpang terlebih untuk saya, mengingat bahwa daya baterai telepon genggam yang saya miliki mudah habis.

Sebenarnya malam hari sebelum hari keberangkatan saya sudah mencoba meminjam powerbank ke sejumlah teman lewat grup kelas. Namun satu orang teman yang mau meminjamkan powerbank-nya sedang tidak berada di Jogja. Jadi apa yang diberikan oleh PT. Kereta Api Indonesia lewat fasilitas pengisian daya listrik gratis ini sangat membantu.

Kepala ini mulai pusing dan sensasi di perut begitu hebohnya membuat saya mulai merasakan mual. Bukan karena posisi duduk yang membelakangi arah tujuan tapi karena tubuh ini terguncang hebat ketika di kamar mandi. Sungguh bukan ide yang bagus untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta sedang berjalan. Pergi ke toilet untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta berhenti di stasiun untuk sementara waktu memang sebuah solusi. Karena tidak merasakan gerbong kereta yang bergoyang hebat. Mungkin ini pengaruh dari posisi toilet yang dekat dengan roda belakang kereta dan juga dekat dengan penyambung antara gerbong satu dan gerbong lainnya. Sehingga guncangan yang tidak stabil itu begitu terasa.

Tidur merupakan sebuah solusi dalam menunggu sampai ke tujuan dan meredam rasa mual tapi saya lebih suka menikmati pemandangan yang disuguhkan diperjalanan. Rumah-rumah di pedesaan, lorong gelap yang sunyi, bangunan-bangunan tua, perbukitan dan hutan gersang, hamparan sawah yang begitu luasnya, sampai ke wilayah pemukiman perkotakan yang kumuh dan padat. Dalam benak selalu bertanya-tanya bagaimana jika saya berada di posisi mereka. Berada di lingkungan mereka. Berada di situasi dan kondisi seperti mereka. Itu semua membuat saya belajar bagaimana caranya untuk bersyukur atas apapun yang telah Allah berikan.

Di satu sisi saya bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan ke negara dan masyarakat Indonesia dengan tanah yang subur. Juga kekayaan alamnya yang begitu indah. Sungguh bukan suatu ide yang bagus untuk mendapatkan murka dari Allah karena tidak menjadi pribadi yang pandai bersyukur atas semua yang telah Allah berikan. Di sisi lain saya juga bersyukur karena memiliki nasib yang jauh lebih beruntung daripada orang-orang yang saya lihat lewat jendela gerbong kereta api. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk saya melihat dan mengingat hal ini Yaa Allah.

Saya pun mengikuti jejak orang tua yang menjadi teman duduk di depan saya. Melangkahkan kaki menuju gerbong lain yang ternyata banyak kursi yang tak bertuan. Tak seperti yang ada di gerbong tempat saya duduk yang begitu padat dengan penumpang dan barang. Sungguh situasi yang nyaman untuk bersujud menyembah-Nya setelah mensucikan diri dengan air yang melimpah di toilet kereta api.

Dalam penantian menuju ke tempat tujuan saya melihat petugas kebersihan kereta api yang selalu mondar-mandir dengan tekunnya dari gerbong satu ke gerbong lainnya untuk membersihkan sampah dan menawarkan kantong kresek untuk menampung sampah para penumpang. Petugas kebersihan tersebut dengan sigapnya memunguti semua sampah. Menjaga kebersihan untuk kenyamanan para penumpang. Sungguh pekerjaan yang sangat saya hormati.

Ada juga pegawai berpakaian rapi yang bertugas mengecek tiket. Selain itu masih ada beberapa pegawai lain yang bertugas menjual berbagai macam makanan dan minuman. Saya pun akhirnya memesan segelas coklat panas sebagai teman membaca buku. Dalam lamunan di sela-sela membaca, saya teringat tentang sebuah kisah dari Agustinus Wibowo dalam bukunya “Titik Nol” yang menceritakan salah satu perjalanannya menggunakan kereta api menuju Mongolia dari RRC. Tentang perjalanan dan bagaimana menghabiskan waktu yang begitu lama di dalam kereta. Yang pasti tidak selama seperti yang saya rasakan.

Cahaya mentari senja itu menembus dinding kaca dan menyentuh wajah dengan hangatnya. Melukis senyum di wajah yang terlihat dingin ini. Tas yang berada di atas pun saya ambil bersamaan dengan para penumpang yang juga bersiap-siap untuk turun di stasitun Jatinegara. Sembari menunggu kabar dari teman lewat telepon genggam yang akan menjembut kedatangan saya di Jakarta saya pun melepas salam perpisahan ke kedua teman baru yang saya kenal di bangku gerbong kereta api.

Kereta pun berhenti, langkah kaki ini pun membimbing melanjutkan perjalan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar