Senin, 30 April 2018

Dulu Dibenci, Sekarang Dicinta

Photo via Unsplash (Thomas Kelley)
Apakah kamu pernah merasakan sesuatu di dalam hatimu tentang sesuatu atau beberapa hal yang awalnya tidak disuka bahkan dibenci kini berubah menjadi sesuatu yang menarik dan digeluti? Atau sebaliknya, yang pada mulanya hal tersebut merupakan sesuatu yang disuka, diminati dan kemudian berubah seratus delapan puluh derajat? Kalau kamu pernah merasakan hal itu maka kita memiliki cerita yang sama. Walaupun objek yang kita alami dalam cerita itu mungkin berbeda.

Dalam perjalanan hidup saya ada sebuah hal yang memang awalnya tidak saya suka kemudian berubah menjadi sesuatu yang menarik di hati. Hal itu adalah pelajaran sejarah. Mulai dari mengenal pelajaran sejarah secara formal sejak duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar yang akhirnya mengantarkan saya turun drastis dari yang selalu peringkat lima besar di kelas menjadi peringkat belasan dalam kelas sampai menjadi mahasiswa tingkat pertengahan, pelajaran sejarah merupakan sesuatu yang tidak saya minati.

Saya dan pelajaran sejarah memang memiliki kisah yang sangat panjang untuk diceritakan. Dulu saya berpikir buat apa mempelejari sejarah, mempelajari sesuatu yang sudah terjadi. Yang sudah terjadi biarlah sudah terjadi. Hidup itu harus bergerak dan memikirkan masa depan, pikir saya waktu itu. Walaupun kalau diperhatikan tidak bakalan ada masa sekarang kalau tidak ada masa lalu. Dimana masa lalu bisa dijadikan acuan untuk melangkah ke masa depan. Kan begitu saudara?

Ada beberapa hal juga yang saya bingungkan ketika menemui pelajaran sejarah. Yaitu ketika mempelajari tentang munculnya kerajaan dan agama. Kenapa hanya agama Islam, Hindhu dan Budha saja yang dikisahkan dalam sejarah. Sedangkan tiga agama lain tidak dimasukan dalam pelajaran sejarah. Sebenarnya waktu saya mempelajari PPkn baru lima agama saja yang diakui negara. Yaitu agama Islam, Hindhu, Budha, ditambah agama Katolik dan Kristen. Namun kenapa saya mengatakan tiga agama, karena ternyata Pemerintah Indonesia akhirnya mengakui agama Kong Hu Cu pada tahun 2000 ketika masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau kita kenal dengan nama Gus Dur. Walaupun sudah diakui pada tahun 2000 tapi ketika saya duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar agama Kong Hu Cu belum masuk di dalam kurikulum pelajaran PPKn.

Selain kurangnya minat mempelajari sejarah ada juga hal yang mengakibatkan saya susah dalam mempelajari sejarah, yaitu: menghafal. Menghafal nama dan tanggal memang tidak mudah saya lakukan. Dimana dua hal tadi sangat mayor di dalam pelajaran sejarah. Hal ini juga berlaku di keadaan umum diluar pelajaran sejarah. Dimana saya butuh waktu yang cukup lama ketika ditanya nama seseorang atau alamat dan juga tanggal-tanggal penting di dalam kehidupan. Coba saja bayangkan kalau dulu saya punya kekasih terus dia bilang: “Kamu tahu enggak hari ini hari apa?”. Bisa mati kutu sudah. Pura-pura kesurupan mungkin bisa menjadi solusi. Tapi saya rasa itu cukup dibayangkan saja. Karena memang diri ini tidak memiliki kekasih tulisan ini diposting. Hiks. Gak tau juga apa yang terjadi di beberapa hari setelah saya memposting tulisan ini. Maka dari pada itu saya lebih menyukai pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Ya walaupun pelajaran penjaskes dan seni lebih utama.

Karena kurangnya minat dan bakat, pernah saya memiliki pengalaman yang mendebarkan ketika duduk di bangku SMA. Waktu itu saya sudah kelas dua SMA dan pelajaran sejarah masih saya dapatkan. Ketika memasuki semester dua saya mendapatkan nilai yang sangat buruk di pelajaran sejarah sampai berkali-kali remidi masih saja buruk. Sampai pada akhirnya menyisahkan dua orang yang dari konsentrasi IPA. Dimana salah satunya tentu saja adalah saya. Siapa lagi coba? Kalau bukan saya ngapain juga panjang lebar saya tuliskan intronya. Nah sampai pada akhirnya remidi terakhir itu saya dan teman saya diberikan tugas untuk mencari dan merangkum suatu peristiwa tertentu sebagai pengganti remidial.

Akhirnya ketika sore atau malamnya (saya lupa) saya dan teman saya tadi mengerjakan tugas sejarah bersamaan di salah satu warnet di dekat stasiun bus Borobudur. Waktu tahun 2011 belum banyak orang yang punya laptop dan belum mengenal dengan teknologi yang namanya wi-fi secara luas. Maka daripada itu pergi ke warnet adalah solusi. Karena tidak memungkinkan juga untuk mencari data di perpustakaan dengan tenggang waktu yang sangat singkat. Walaupun sebenarnya waktu itu kata perpustakaan tidak ada dalam pikiran.

Besok paginya rangkuman makalah kami kumpul bersamaan dalam satu plastik yang sama. Sampai suatu ketika pas sedang santai di dalam kelas ada salah satu teman saya memanggil-manggil menyuruh saya segera bertemu Bu Anu (nama samaran guru sejarah kelas 11) untuk mengumpulkan tugas remidial. Saya pun menghadap ke kantor guru namun Bu Anu tidak ada. Ternyata beliau sedang berbicara dengan kepala sekolah di ruang kepala sekolah. Sebagai murid yang baik (ehem) saya pun tidak menyela pembicaraan dan menunggu diluar. Walaupun kadang-kadang nongol agar Bu Anu sadar. Bu Anu pun bertanya kepada saya dan saya pun menjelaskan. Tidak lama saya pun pergi.

Kisah tadi tidak berhenti sampai disitu saja. Di kemudian hari ketika saya bertugas di kepramukaan sebagai salah satu anggota Bantara yang sedang melaksanakan perkemahan di sekolah, saya mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Sore itu kala saya sedang bertugas, sedang diadakan pula rapat besar tahunan di lantai dua salah satu gedung di sekolah. Ada kabar yang berhembus bahwa setidaknya ada dua murid kelas 11 yang tidak naik kelas. Kabar lain menyebutkan bahwa salah satu yang tidak naik kelas adalah saya.

Hati saya tidak karuan mendengar kabar itu. Selama acara perkemahan pikiran saya nge-blank, buyar kemana-kemana. Karena setelah saya pikir memang bukan mustahil saya tidak naik kelas karena saya memang bermasalah di dua mata pelajaran yaitu pelajaran kimia dan sejarah.

Pikiran capek hati pun capek saya pun sudah pasrah ketika waktu pengumuman datang. Sebenarnya ada beberapa hal yang terjadi ketika masa-masa itu terjadi tapi tak perlulah saya ceritakan. Sampai pada akhirnya saya pun berteriak bahagia karena ternyata saya naik kelas walaupun pelajaran sejarah mendapat nilai standar KKM. Tak apalah yang penting naik tingkat. Namun sedihnya adalah teman saya yang saya ceritakan di awal yang sama-sama mengerjakan tugas remidial pelajaran sejarah, dia tidak naik kelas.

Panjang sekali bukan kisahnya? Nah begitulah sejarah. Panjang, runtut dan satu kisah dengan kisah lainnya saling berhubungan. Sebenarnya masih banyak lagi kisah “asmara” saya dengan pelajaran sejarah. Dimana pada akhirnya ketika menjadi mahasiswa tingkat menengah perasaan tidak suka itu berubah menjadi cinta.

Apa saja yang mengakibatkan saya berubah menjadi menyukai pelajaran sejarah? Tunggu saja kisahnya nanti. Yang In syaa Allah akan saya bagikan sebagai wadah kita ngobrol-ngobrol santai.

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar